Kamis, 01 September 2016

Jual Sayur 43 tahun, Hingga Bisa Kuliahkan Anak

Ditinggal Suami Bukan Penghalang Kayatun untuk Membesarkan Anak-Anaknya

Di tengah hiruk pikuk Kota Malang, Kayatun tetap berjuang berjualan sayur di pinggiran Jalan Bandung. Usahanya pun tidak sia-sia, karena ia berhasil membiayai anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Duduk di bawah pohon keres terlihat wanita paruh baya sedang menunggui barang dagangannya. Meski jalanan sangat ramai, Kayatun tetap setia berada di tepian trotoar sebelah gedung pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Malang guna menanti pembeli. Ibu berusia 62 tahun tersebut menjual berbagai macam sayur mulai dari sawi, kangkung, bayam, wortel, tomat hingga kentang. Selain itu, ia juga menyediakan jenis lauk seperti ikan bandeng, tongkol, mujaer, ayam, tahu, tempe dan telur puyuh.

Saat itu Kayatun memakai baju bermotif bunga dengan bawahan kain batik berwarna cokelat. “Monggo mbak jajannya,” ucap Kayatun ramah menyapa sembari menawarkan jajan yang ia jual. Saat itu jajan yang ia jual hanya tinggal dua macam saja yaitu tiga buah cakwe dan getuk singkong warna warni. Saat saya membeli semua jajanan tersebut, ia hanya meminta uang sebesar Rp 7.500 saja.

Ibu 3 orang anak tersebut lahir dan menghabiskan masa remajanya di Ponorogo. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Dasar (SD) saja dan ia kemudian pergi ke Malang untuk belajar membuat pakaian. Namun, hanya berselang setahun ia kemudian kembali ke kota kelahirannya dan menikah dengan Supeno.

Meski usia baru beranjak 15 tahun, namun ia memilih untuk menikah dengan Supeno dan hijrah ke Malang pada tahun 1973. Saat pertama kali berada di Malang, ia mendapat ilmu dari para tetangganya untuk berjualan sayur. Ia pun mencoba untuk mengikuti saran tersebut dan dimulailah pekerjaan yang nantinya akan menjadi penopang hidupnya.

Setelah 15 tahun menikah, ia pun kehilangan suaminya karena penyakit leukimia. Supeno yang memiliki profesi sebagai tukang sepatu harus meninggalkan Kayatun dan ketiga buah hati mereka. Putra pertama mereka Wahyudi Nugroho masih berumur 14 tahun, putri kedua mereka Winahyu Nugraheni baru menginjak usia 11 tahun. Serta putra ragil mereka bernama Tri Yoga Pamungkas yang masih berumur 6 tahun.

Kehilangan Supeno tak membuat Kayatun kehilangan semangat untuk tetap melanjutkan hidup. Ia tetap berjuang sendiri untuk membesarkan anak-anaknya hingga mereka bisa merasakan bangku perkuliahan. Hal yang ia lakukan untuk membesarkan anak-anaknya adalah dengan tetap berjualan sayur di pinggiran Jalan Bandung dan menyewakan rumahnya. Rumahnya yang berada di daerah Bethek dijadikannya rumah kost untuk para mahasiswa rantau.

Dengan penghasilan dari berjualan sayur dan menyewakan rumahnya itu ia bisa tetap menghidupi keluarganya. Anak pertamanya menempuh pendidikan hingga D3 di Universitas Merdeka. Sedangkan anak keduanya merasakan pendidikan S1 di sebuah universitas swasta di Malang. Saat sedang skripsi putri Kayatun tersebut lebih memilih untuk menikah dibandingkan meneruskan pendidikannya. Anak terakhirnya pun mengenyam pendidikan D1 Teknik Informatika.

Kayatun selalu berpesan kepada anaknya untuk terus mencari ilmu. “Sekarang sekolah itu penting. Meskipun sarjana juga susah mencari pekerjaan, tapi sekolah itu bisa nambah wawasan,” ucap Kayatun kepada ketiga anaknya saat mereka mulai tidak bersemangat untuk bersekolah.

Saat bercerita tentang suaminya yang meninggal dan perjuangannya membesarkan anak sendirian, air mata mulai menetes ke pipi keriput Kayatun. Ia juga mengungkapkan bahwa meskipun hidup sangat sulit, tapi tetap harus selalu berjuang. Meski pernah mengalami penyakit diabetes yang cukup parah, Kayatun terus berjuang untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Hingga ia pernah melakukan diet karbohidrat dan gula yang sempat membuat ia mau pingsan saat berjualan.

Perjuangan Kayatun untuk membesarkan anaknya tidak sia-sia karena saat ini ketiga anaknya sudah mempunyai hidup yang mapan. Meskipun hanya sebagai pegawai swasta biasa, mereka sudah tidak lagi menggantungkan hidup pada ibu mereka. Anak yang sudah mapan tidak membuat Kayatun ingin berhenti dari profesinya sebagai penjual sayuran.

Kayatun tetap bersikukuh ingin tetap melakukan rutinitasnya yaitu pergi ke pasar pada pukul 06.00 dan mulai berjualan di Jalan Bandung pada pukul 08.00. “Gak enak mbak kalau gak kerja. Udah terbiasa kerja dari dulu,” ucap nenek dari lima orang cucu tersebut.

Biasanya ia pergi ke pasar dari rumahnya dengan menggunakan angkot. Namun, saat pergi pulang dari tempatnya berjualan ia memilih untuk berjalan kaki. Saat pulang ia akan mengemas dagangannya dalam sebuah tas. Tetapi, bahan seperti kentang, wortel dan sayuran lainnya akan dititipkannya pada toko sebelahnya, yaitu toko milik seseorang bernama Simbolon.


Kayatun menegaskan akan tetap berjualan hingga badannya tak kuat lagi. Meskipun hanya beralaskan koran dan kardus bekas saja, ia tetap mencintai profesinya itu. Hidup pas-pasan dan tidak terbelit hutang adalah hal yang ia inginkan. Meskipun ia hanya memakai satu giwang dan memakai penutup kepala yang sudah cukup tua, Kayatun tetap mensyukuri kehidupannya. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar