Ditinggal Suami Bukan Penghalang
Kayatun untuk Membesarkan Anak-Anaknya
Di tengah hiruk pikuk Kota Malang, Kayatun tetap
berjuang berjualan sayur di pinggiran Jalan Bandung. Usahanya pun tidak sia-sia,
karena ia berhasil membiayai anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Duduk di bawah pohon keres terlihat wanita paruh
baya sedang menunggui barang dagangannya. Meski jalanan sangat ramai, Kayatun
tetap setia berada di tepian trotoar sebelah gedung pasca sarjana Universitas
Muhammadiyah Malang guna menanti pembeli. Ibu berusia 62 tahun tersebut menjual
berbagai macam sayur mulai dari sawi, kangkung, bayam, wortel, tomat hingga
kentang. Selain itu, ia juga menyediakan jenis lauk seperti ikan bandeng, tongkol,
mujaer, ayam, tahu, tempe dan telur puyuh.
Saat itu Kayatun memakai baju bermotif bunga dengan
bawahan kain batik berwarna cokelat. “Monggo
mbak jajannya,” ucap Kayatun ramah menyapa sembari menawarkan jajan yang ia
jual. Saat itu jajan yang ia jual hanya tinggal dua macam saja yaitu tiga buah
cakwe dan getuk singkong warna warni. Saat saya membeli semua jajanan tersebut,
ia hanya meminta uang sebesar Rp 7.500 saja.
Ibu 3 orang anak tersebut lahir dan menghabiskan
masa remajanya di Ponorogo. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Dasar (SD) saja
dan ia kemudian pergi ke Malang untuk belajar membuat pakaian. Namun, hanya
berselang setahun ia kemudian kembali ke kota kelahirannya dan menikah dengan
Supeno.
Meski usia baru beranjak 15 tahun, namun ia memilih
untuk menikah dengan Supeno dan hijrah ke Malang pada tahun 1973. Saat pertama
kali berada di Malang, ia mendapat ilmu dari para tetangganya untuk berjualan
sayur. Ia pun mencoba untuk mengikuti saran tersebut dan dimulailah pekerjaan
yang nantinya akan menjadi penopang hidupnya.
Setelah 15 tahun menikah, ia pun kehilangan suaminya
karena penyakit leukimia. Supeno yang memiliki profesi sebagai tukang sepatu
harus meninggalkan Kayatun dan ketiga buah hati mereka. Putra pertama mereka
Wahyudi Nugroho masih berumur 14 tahun, putri kedua mereka Winahyu Nugraheni
baru menginjak usia 11 tahun. Serta putra ragil mereka bernama Tri Yoga
Pamungkas yang masih berumur 6 tahun.
Kehilangan Supeno tak membuat Kayatun kehilangan
semangat untuk tetap melanjutkan hidup. Ia tetap berjuang sendiri untuk
membesarkan anak-anaknya hingga mereka bisa merasakan bangku perkuliahan. Hal
yang ia lakukan untuk membesarkan anak-anaknya adalah dengan tetap berjualan
sayur di pinggiran Jalan Bandung dan menyewakan rumahnya. Rumahnya yang berada
di daerah Bethek dijadikannya rumah kost untuk para mahasiswa rantau.
Dengan penghasilan dari berjualan sayur dan
menyewakan rumahnya itu ia bisa tetap menghidupi keluarganya. Anak pertamanya
menempuh pendidikan hingga D3 di Universitas Merdeka. Sedangkan anak keduanya
merasakan pendidikan S1 di sebuah universitas swasta di Malang. Saat sedang
skripsi putri Kayatun tersebut lebih memilih untuk menikah dibandingkan
meneruskan pendidikannya. Anak terakhirnya pun mengenyam pendidikan D1 Teknik
Informatika.
Kayatun selalu berpesan kepada anaknya untuk terus
mencari ilmu. “Sekarang sekolah itu penting. Meskipun sarjana juga susah
mencari pekerjaan, tapi sekolah itu bisa nambah wawasan,” ucap Kayatun kepada ketiga
anaknya saat mereka mulai tidak bersemangat untuk bersekolah.
Saat bercerita tentang suaminya yang meninggal dan
perjuangannya membesarkan anak sendirian, air mata mulai menetes ke pipi
keriput Kayatun. Ia juga mengungkapkan bahwa meskipun hidup sangat sulit, tapi
tetap harus selalu berjuang. Meski pernah mengalami penyakit diabetes yang
cukup parah, Kayatun terus berjuang untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut.
Hingga ia pernah melakukan diet karbohidrat dan gula yang sempat membuat ia mau
pingsan saat berjualan.
Perjuangan Kayatun untuk membesarkan anaknya tidak
sia-sia karena saat ini ketiga anaknya sudah mempunyai hidup yang mapan.
Meskipun hanya sebagai pegawai swasta biasa, mereka sudah tidak lagi
menggantungkan hidup pada ibu mereka. Anak yang sudah mapan tidak membuat
Kayatun ingin berhenti dari profesinya sebagai penjual sayuran.
Kayatun tetap bersikukuh ingin tetap melakukan
rutinitasnya yaitu pergi ke pasar pada pukul 06.00 dan mulai berjualan di Jalan
Bandung pada pukul 08.00. “Gak enak mbak kalau gak kerja. Udah terbiasa kerja
dari dulu,” ucap nenek dari lima orang cucu tersebut.
Biasanya ia pergi ke pasar dari rumahnya dengan
menggunakan angkot. Namun, saat pergi pulang dari tempatnya berjualan ia
memilih untuk berjalan kaki. Saat pulang ia akan mengemas dagangannya dalam
sebuah tas. Tetapi, bahan seperti kentang, wortel dan sayuran lainnya akan
dititipkannya pada toko sebelahnya, yaitu toko milik seseorang bernama
Simbolon.
Kayatun menegaskan akan tetap berjualan hingga
badannya tak kuat lagi. Meskipun hanya beralaskan koran dan kardus bekas saja,
ia tetap mencintai profesinya itu. Hidup pas-pasan dan tidak terbelit hutang
adalah hal yang ia inginkan. Meskipun ia hanya memakai satu giwang dan memakai
penutup kepala yang sudah cukup tua, Kayatun tetap mensyukuri kehidupannya.











